Kupang, 4 Agustus
2013
Aku dulu memulai mengajar di kelas anak kecil (umur 6-8 tahun). Awal
yang aneh, karena lepas dari kasasi sidi kami langsung turun mengajar di rayon
tanpa training apapun, hnya bermodal buku renungan khusus anak kecil dan
pelajaran di kelas kasasi. Lucu memang, masih gugup dan tidak tahu harus
berbuat seperti apa di hadapan anak-anak. Tapi, teman-teman sesame pelayan PAR
selalu ada menyemangati..itu melegakan. ^_^
Suka duka selalu dialami, ada tangisan karena tidak sanggup
menghadapi kenakalan mereka, ada tawa yang tiada henti karena candaan dan
lelucon mereka. Kadang kita bisa lepas tertawa begitu saja karena spontanitas
dan kepolosan mereka. Semua ada… berapa lama pun kita pergi, selalu saja ada
rindu yang begitu dalam untuk kembali lagi mengajar.
Aku masih ingat, setelah 3 bulan mngajar di kelas anak kecil (yang
rebut dan kenakalannya luar biasa), aku dipindahkan ke kelas anak Inria (2-5
tahun) dan hal-hal serupun dimulai. Tidak ada yang sulit dengan kelas ini, hnya
tawa, permainan, lagu-lagu, tarian yang ada di kelas ini. Seperti berada di
tengah-tengah bangsa Israel yang bersukacita selalu karena Tuhan Allah yang
hidup.. seperti selalu berada dekat dengan Yesus. Sukacita selalu deh…
Dan kini setelah 4 tahun mengajar anak inria, aku dipindahkan ke
kelas anak remaja (12-15 tahun).. memang, tahun-tahun kemarin, aku juga
terkadang ditempatkan di kelas remaja kalau teman pelayan yang mengajar
berhalangan hadir, tapi tidak sering juga. Remaja, hufttt….usia yang menakutkan
kalau kita menjadi pengajar mereka. Usia pencarian jati diri yang riskan dan
penuh “pemberontakan”.
Hari ini, kali ke tiga aku mengajar tetap di kelas anak remaja. Dan
hari pertama aku menangis kehilangan kesabaran di kelas ini.. sikap lemah
lembut tidak mempan, sikap keras, buat mereka semakin menjadi-jadi, sikap cuek
buat mereka lepas control,…Tuhan, aku mohon ampun….. teman pelayanku juga sudah
mencoba berbicara keras dengan mereka tadi…aku juga sudah mencoba berbicara
dengan mereka… mungkinkah mereka butuh didengarkan lebih banyak? Tuhan Yesus,
aku bukan pendeta ataupun majelis..aku tidak mempunyai latar belakang
pendidikan teologi yang cukup… aku tau, aku tidak mampu… Tuhan..Engkau yang
memiliki mereka… tolong aku juga… ampuni ani…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar