Selasa, 03 September 2013

Catatan Guru Sekolah Minggu

Kupang, 4 Agustus 2013

Aku dulu memulai mengajar di kelas anak kecil (umur 6-8 tahun). Awal yang aneh, karena lepas dari kasasi sidi kami langsung turun mengajar di rayon tanpa training apapun, hnya bermodal buku renungan khusus anak kecil dan pelajaran di kelas kasasi. Lucu memang, masih gugup dan tidak tahu harus berbuat seperti apa di hadapan anak-anak. Tapi, teman-teman sesame pelayan PAR selalu ada menyemangati..itu melegakan. ^_^

Suka duka selalu dialami, ada tangisan karena tidak sanggup menghadapi kenakalan mereka, ada tawa yang tiada henti karena candaan dan lelucon mereka. Kadang kita bisa lepas tertawa begitu saja karena spontanitas dan kepolosan mereka. Semua ada… berapa lama pun kita pergi, selalu saja ada rindu yang begitu dalam untuk kembali lagi mengajar.

Aku masih ingat, setelah 3 bulan mngajar di kelas anak kecil (yang rebut dan kenakalannya luar biasa), aku dipindahkan ke kelas anak Inria (2-5 tahun) dan hal-hal serupun dimulai. Tidak ada yang sulit dengan kelas ini, hnya tawa, permainan, lagu-lagu, tarian yang ada di kelas ini. Seperti berada di tengah-tengah bangsa Israel yang bersukacita selalu karena Tuhan Allah yang hidup.. seperti selalu berada dekat dengan Yesus. Sukacita selalu deh… 

Dan kini setelah 4 tahun mengajar anak inria, aku dipindahkan ke kelas anak remaja (12-15 tahun).. memang, tahun-tahun kemarin, aku juga terkadang ditempatkan di kelas remaja kalau teman pelayan yang mengajar berhalangan hadir, tapi tidak sering juga. Remaja, hufttt….usia yang menakutkan kalau kita menjadi pengajar mereka. Usia pencarian jati diri yang riskan dan penuh “pemberontakan”.

Hari ini, kali ke tiga aku mengajar tetap di kelas anak remaja. Dan hari pertama aku menangis kehilangan kesabaran di kelas ini.. sikap lemah lembut tidak mempan, sikap keras, buat mereka semakin menjadi-jadi, sikap cuek buat mereka lepas control,…Tuhan, aku mohon ampun….. teman pelayanku juga sudah mencoba berbicara keras dengan mereka tadi…aku juga sudah mencoba berbicara dengan mereka… mungkinkah mereka butuh didengarkan lebih banyak? Tuhan Yesus, aku bukan pendeta ataupun majelis..aku tidak mempunyai latar belakang pendidikan teologi yang cukup… aku tau, aku tidak mampu… Tuhan..Engkau yang memiliki mereka… tolong aku juga… ampuni ani…

Tidak ada komentar: