8
Maret 2014
“Kenalkan,
ini pacarku”, Asra mengenalkanku pada seorang tetangga rumahnya
saat kami berhenti mengisi bensin. Kami kehabisan bensin ketika
hendak pergi ke rumah mentor kasasi kami, mau mendiskusikan kegiatan
kami setelah ditabis bulan kemarin. Dan pengisian bensin eceran yang
kami singgahi ternyata tetangganya.
“Aku
Adnee” senyumku sambil mengulurkan tangan, mencoba ramah dengan
sebaik mungkin. Asra, pacarku. Kami jadian setelah serangkaian sms
–sms konyol sehabis acara syukuran di rumah Ra dan Re. Satu bulan
PDKT, lalu jadi. Konyolnya, aku yang menyatakan perasaanku padanya.
Gila.
Dia
ternyata tidak seseram saat pertama aku mengenalnya – aku lupa
kapan tepatnya kami berdua pertama kali bertemu- , dia lucu, konyol,
pokoknya humoris. Banyak hal yang bisa kami diskusikan kalau bertemu
dan bercengkrama, kebanyakan kami lakukan di atas sepeda motor saat
berboncengan dan di teras rumahku. Mulai dari topik camat dan lurah
terbaru sampai berapa jumlah kabupaten di provinsi kami. Hahahahaha,
dia selalu membuatku tertawa dan nyaman. Aku menyukainya, sangat.
Tubuhnya
selalu wangi, bahunya lebar dan hangat, selalu terlihat nyaman saat
dilihat dari belakang. Senyumannya adalah senyuman jahil. Jemarinya
ramping, lentik seperti jari perempuan. Dia langsing, lebih tepatnya
kurus. Hahaha, konyol kedengarannya tapi aku suka memeluknya saat
kami berboncengan, lenganku selalu pas di pinggangnya. Asra, dia
penuh kehangatan dan misterius.
“Dia?
Dia sudah punya pacar Adnee!! Ada ceweknya, teman sekolah kami pula.
Namanya Lita. Kamu sudah gila atau tertipu seh?!?”, lengking Ra
saat tahu aku berpacaran dengan Asra.
“Hah?
Aku......tidak tau..”, sedetik aku melongo lalu berbisik halus.
Betul,
aku tidak tahu. Ini sudah dua bulan kami berpacaran, awalnya tidak
ada satupun teman-teman kami yang mengetahui kami berpacaran. Sampai
aku tidak tahan lalu kuceritakan saja pada Ra dan Re. Secara,
gara-gara mereka berdualah aku mengenalnya. Tapi mengetahuinya dia
sudah memiliki pacar saat menerima perasaanku, itu adalah hal lain.
“Kamu
bodoh”, kata Re dengan datar tanpa ekspresi, seperti biasa.
Menyebalkan.
“Aku
tidak bodoh, aku hanya tidak tahu”, belaku.
“Justru
itu letak kebodohanmu. Kamu hanya mengenalnya sebulan lalu mengatakan
suka padanya. Kamu berpikir tidak?”, sambung Re.
“Tidak...aku
hanya .....hanya....nyaman... dia membuatku bisa melupakan Kak
Zack....”, aku menggumam lemah, bingung dengan perasaanku.
“Kak
Zack?! Lagi? Kamu masih ingat dia? Ohh...ayolah Adnee...tidak bisakah
kamu memaafkan dia lalu melupakannya? Huuhhhh....”, Ra terlihat
gusar saat kusebut nama itu.
Zack
Reinaldi, cinta dan pacar pertamaku yang pergi ke pulau seberang. Aku
sering dikenal sebagai playgirl di antara sahabat-sahabatku setelah
putus dengan Kak Zack. Kakak kelasku yang pendiam dan mempesona,
namun aku tak pernah mengerti dia. Bagiku, semua pacar-pacarku hanya
jadi obyek pelarian, mencari sosoknya di orang lain. Tak pernah
kudapatkan, sampai akhirnya aku mengenal Asra.
“Aku
sudah lupa. Benar, aku sudah melupakannya saat bersama Asra
akhir-akhir ini. Aku tahu”, sahutku keras mencoba mendapatkan
kembali suaraku.
“Dia
punya cewek Adnee”, Ra melembutkan suaranya.
“Iya,
dan itu aku”, aku bersikeras.
“Kamu
....sudah gila. Sekarang, kamu tanya saja pada pacar barumu itu siapa
pacarnya. Lita atau Adnee, atau mungkin ada yang lainnya”, gelak Re
sambil mencoba menyindirku.
“Baik,
aku tanya”, aku tahu Re cuma bercanda tapi hati kecilku tidak
tenang. Sepertinya berkomplot dengan Re, hati ini juga mengatakan ada
yang tidak beres.
“Akan
kutanya, dan jika aku tahu jawabannya tidak selain aku. Kalian
habis!”, gertakku pelan.
“Kalau
dia berani jujur Adnee...kamu tahu lelaki itu seperti apa...”, kata
Ra sambil menggelengkan kepalanya. Gusar dengan sikap keras kepalaku.
Aku
melangkah pulang. Lebih tepatnya hampir berlari. Tergesa ku mengambil
hanndphone saat sampai di rumah. Men-dial nomornya, lalu..
“Halo”
“Halo,
aku ingin mengajukan pertanyaan. Kamu punya pacar selain aku??
Namanya Lita?”
“Hah??”
To
be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar