8
Aprill 2014
“Hei,
tenanglah. Hmm, bagaimana dengan ujian tadi pagi? Aku susah
mengerjakannnya loh. Sampai-sampai habis mengerjakan soal, aku hanya
bisa menyanyi Tahanlah
dan berjuang trusss...hahahaha...,
Ayolah, jangan bermuka masam trus begitu”, bujukan Asra yang
terus-menerus menenangkan tak mempan membuatku tersenyum.
Aku
hanya tak habis pikir saja, kenapa banyak orang yang mengatakan dia
sudah mempunyai pacar dan dia tidak mengakuinya! Bahkan kemarin
sepupuku, teman dekatnya menunjukkan foto mesranya dengan seorang
cewek, berpelukan lagi! Hah! Aku cemburu tauk!
“Ya.
Sudah. Aku sudah tenang”, ujarku sambil memasang wajah datar.
“Adnee...sayang..
dia hanya teman baikku sejak smp. Masa kamu cemburu dengan temanku?”
bujuk Asra.
“Yah,
tidak apa-apa. Singgah rumah yuk, ceritanya di rumahku saja”
“Oke”
Sejak
sejam yang lalu, kami hanya berputar-putar mengitari lingkungan rumah
kami dengan sepeda motor. Maklum, karena rumah kami berdekatan
makanya semua tetangga memandang kami dengan heran saat kami berulang
kali mengitari jalan yang sama, hanya untuk membujuk aku yang sedang
merajuk. Berputar ke arah rumahku, kemudian kami turun dan
bercakap-cakap di teras rumah. Membicarakan banyak hal kecuali cewek
lain yang kata orang-orang pacarnya. Sembari berbicara, aku
memikirkan banyak hal. Sepertinya kami baik-baik saja, tertawa dan
bercanda. Tidak terjadi apa-apa setelah aku merajuk, tapi aku tidak
baik-baik saja.
“Sudah
sore, aku pulang dulu. Nanti ku-sms”, pamit Asra.
“Yup,
hati-hati” jawabku.
“Oke,
bye sayang”
Aku
tersenyum...
1
jam kemudian...
“Halo..kenapa?”
sahut Asra saat mengangkat telponku.
“Tidak..aku
hanya mau bilang, kita berteman saja”
“Oh”
“Ya.
Maaf.. aku tutup telponnya. Selamat malam”
1
menit kemudian....
“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh.........!!!”
aku berteriak histeris di kamarku. Sepertinya ada yang sesak di dada.
Kubekap mulutku dengan bantal, lalu kuberteriak lagi... dan sesuatu
yang mengganjal itu tidak keluar juga. Ternyata aku bodoh. Ya, ampun.
Aku menyukainya dan aku memutuskannya dengan begitu saja. Ah, tidak.
Dia punya pacar lain, makanya kuputuskan. Hah!! Aku mulai gila.
Jangan lagi, jangan seperti ini. Rasanya seperti aku putus dengan kak
Zack dulu. Rasanya menyakitkan.
Besoknya,
hari minggu. Aku harus pergi mengajar sekolah minggu. Kulihat wajahku
di cermin. Mataku masih sembab dan bengkak sehabis menangis semalam.
Mungkin degan mencuci muka, bekasnya akan hilang. Eh, hpku bergetar..
“Halo”
“Halo.
Ini Adnee ya? Ini temennya Asra. Kamu ngapain dia? Dia mabuk berat
dari kemarin. Seperti habis diputusin. Kamu putusin dia? Kenapa?”
berondong teman Asra yang tidak memperkenalkan namanya.
“Maaf.
Aku memang putusin dia. Karena dia punya pacar lain”
“Siapa?
Lita? Aku tahu dia..dia istri rumahnya Asra...yah adat begitu. Dan
mereka sudah kenal dari smp. Memang dekat..katanya sih juga pacaran
Tapi, hanya karena itu?”
Hanya
karena itu? Rasa-rasanya aku ingin meledak mendengar kata itu. “Ya
sudah. Bilang, aku minta maaf. Sudah? Aku mau keluar. Maaf.”
Kututup telpon itu dengan ketus. Sudah, cukup. Aku tahu, aku juga
salah. Ini harus diakhiri.
1
minggu kemudian...
Kulihat
layar hpku..kosong, tidak ada sms, tidak ada panggilan singkat
seperti biasanya. Lalu kebodohanku pun dimulai. Kubuka kontak,
namanya masih sama. Aku belum menggantinya. Tombol-tombol hp kutekan
berapa kali, dan pesan terkirim. Tak lama, berapa detik kemudian sms
balasan sudah muncul di layar.
“Hai,
kupikir aku sudah dilupakan”
“Hai,
tidak. Kamu tidak dilupakan”
“Kenapa
sms?”
“Tidak.
Hanya ingin tahu kabarmu”
“Aku
baik”
“Oh”
“Itu
saja?”
“Ya,
lanjutkan aktifitasmu. bye”
“Ok.
bye”
Dan
aku tidak tahu lagi harus membalas sms itu seperti apa. Seperti masih
ada yang kosong di hati. Aku tidak tahu. Mungkin aku terlanjur
menyayanginya. Dan kulepas begitu saja. Hal itu yang akan menjadi
dasar kesalahan terbesar yang akan baru kusadari 4 tahun kemudian...
To
be continued..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar