Hak asasi, kita mendengar dan mengenal dua kata
tersebut sebagai hal yang mendasar yang dimiliki oleh manusia. Hak untuk
bernapas, hidup, percaya, makan-minum, dan hak-hak yang lainnya. Tapi menurut
saya, ada hak yang penting yang lupa untuk dicantumkan dalam deretan hak-hak di
dunia ini yaitu hak untuk merindukan.
Kenapa? Karena kita manusia. Rindu atau merindukan
adalah warna manusia yang kompleks, efek yang muncul dari sejuta hal yang kita
lakukan dalam hidup ini. Di saat kita lahir, kita merindukan mama untuk setiap
detiknya. Di saat kita bertumbuh, kita merindukan semua orang di sekitar kita
untuk ada belajar bersama kita, kita merindukan teman-teman kita. Di saat kita
remaja, kata rindu pun berubah artinya menjadi lebih spesifik dan eksklusif,
rindu hanya untuk orang yang kita cintai dengan dua kata mantra yang selalu
ajaib untuk mereka..”miss u”.
Bagi orang yang merindu, ada perasaan aneh yang
mengganjal di hati jika rasa rindu itu tidak disampaikan atau dicari jalan
keluarnya untuk menjadi kurang rindu. Mungkin dengan bertemu, menge-sms, atau
menelpon orang yang dirindu, atau mungkin hanya membiarkan hp-nya berdering
beberapa saat (miss call) sekedar mengingatkan ada yang merindukan dia. Untuk
orang yang hampir tidak pernah merindu, mungkin hal-hal tersebut agak sedikit
kurang kerjaan tapi itulah orang yang merindu, seperti kehilangan keseimbangan
hatinya. Bagi orang yang dirindukan, ada kalanya galau..bisa senang juga bisa
resah, siapa tahu?
Mungkin kita pernah mendengar kata-kata puitis ini,
“Jika kau merindukan seseorang bukan karena jauh atau tak pernah bertemu
dengannya, melainkan karena apapun yang kau lakukan, kau ingin dia ada
disampingmu”. Kita merindukan seseorang atau sesuatu dalam hidup kita karena
kita ingin dia atau hal itu berada didekat kita untuk mengisi kekurangan yang
ada pada kita, seperti melengkapi bahkan mungkin dibutuhkan seperti napas yang
mengisi paru-paru kita. Contoh, dengan merindu orang dapat mengejar cita-cita
di bangku kuliah dengan semangat karena kita ingin cepat selesai dan bertemu
dengan dia mungkin. Atau dengan merindukan, kita jadi tahu ternyata kita punya
hati.
Bagi saya, jika manusia tidak pernah merindu mungkin
dia adalah robot. Dan jika manusia dilarang untuk merindu, itu adalah
pelanggaran hak yang paling hakiki dari keberadaannya sebagai manusia yang
hidup karena cinta.
Jadi, silakan untuk merindu atau saling merindukan
sebagai manusia normal yang hidup. Kalau anda tak tahu apa itu merindu,
belajarlah untuk mengucapkan “miss u” pada orang di samping anda.
red:any_suyono_pelatihan-menulis-@elektroundana-20april2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar