Jendela kamarku sore hari itu indah sekali dengan cahaya senja yang menyapunya....hari itu, 17
Februari 2014..aku teringat suatu cerita beberapa tahun yang lalu...
...................
Kendaraan
sudah banyak yang terparkir di pinggir-pinggir jalan depan rumah
temanku, Rany dan Reny. Maklum saja, halaman rumah mereka yang
dijadikan tempat pesta berbatasan langsung dengan jalan besar. Mau
tidak mau kendaraan undangan dan teman-teman pun diparkir menyesaki
bahu jalan. Hari ini, hari aku, Ra, Re dan beberapa temanku
ditabiskan menjadi anggota sidi di gereja kami. Sudah pasti syukuran
pun diadakan. Termasuk di rumah si kembar Ra dan Re.
Aku
melangkah turun dari motor, perlahan menuju halaman rumah yang sudah
penuh dengan tawa dan celoteh orang-orang. Sore itu, sehabis syukuran
di rumahku, aku memilih mengunjungi pesta syukuran kedua sahabatku
itu ketimbang diam di rumah dan dikerubuti keluarga.
“Aku
juga! Langsung saja ke meja makan, atau kalau masih kenyang, duduklah
disini. Setelah menyalami orang-orang ini aku akan duduk menemanimu”
Re
dan Ra menyambut dengan cerewet, seperti biasa aku sudah tau reaksi
mereka. Hal yang tidak biasa hari ini adalah mereka berdua terlalu
mirip. Gaun putih panjang, high heels dengan warna senanda, gaya
rambut dan tawa yang sama hampir membuatku sedikit terperangah dan
terbahak. Kalau mereka tidak berbicara, sudah pasti aku akan susah
membedakan mereka berdua. Suara Ra lebih melengking dan ceria.
Sedangkan Re, lebih terdengar bass dan dalam. Kembar yang selalu
membuatku gemas.
“Halo!
Kamu temannya Ra atau Re? Aku Sandy, temannya Re. Salam kenal!”
salam seorang cewek yang duduk di sebelah kursi yang baru saja akan
ku duduki.
“Aku
Adnee. Keduanya temanku”, aku menyahut pendek sambil tersenyum.
Tidak
terlalu ingin berbicara banyak dalam kerumunan undangan ini, aku
sengaja mengambil handphone dan mengotak-ngatiknya. Seolah-olah sibuk
dengan pesan yang masuk. Melihat Ra dan Re yang sibuk dengan teman
mereka masing-masing – bahkan banyak yang tertukar mengenali mereka
berdua tetap saja bersikap sok akrab - , aku tahu mereka berdua masih
lama untuk duduk lagi denganku. Baik, sebaiknya aku menuju meja
makan. Mencari kesibukan baru, makan.
Piringku
sudah kosong saat Ra dan Re datang mendekatiku dengan seorang teman
cowok mereka. “Hei, sudah makan?”, basa-basi yang sudah biasa
neh. “hmmm, kalian berdua ternyata orang terkenal, sibuk sekali
naa”, jawabku dengan senyum bercanda.
“Hahahahhahaha!!
Sudahlah, jangan jealous begitu.”, tawa Ra.
“Kamu
jealous? Rasain, week”, sindiran Re ini sudah biasa kudengar, tabah
saja deh.
“Sory
yah,...aku aman-aman aja. Sedikit lagi aku pulang, hanya mau lihat
apakah kalian masih secantik pentabisan tadi pagi atau tidak”,
balasku.
“Eh,
pulang? Tunggu dulu, duduk sebentar dengan Asra dulu. Jangan pulang.
oke”, tahan Ra.
“Kami
dari dulu juga sudah cantik dan akan cantik selalu. Duduk. Dan jangan
pulang”, sambung Re.
Aku
menyengir kemudian tertawa mengiyakan. Tapi, Asra? Cowok yang datang
bersama mereka sudah duduk mengotak-atik handphone miliknya di
sebelahku. Mencoba mengacuhkan kami. Selepas mereka berdua pergi
mengurusi kenalan-kenalan yang masih datang, kami duduk diam begitu
saja. Tingginya sekitar 170 cm, berambut ikal dengan alis mata yang
tebal. Bibirnya tipis dan ketus, kulit sawo matangnya membuat cowok
ini bisa terlihat mempesona. Tapi, raut wajahnya yang datar
membuatnya terlihat biasa saja. Risih berdiam diri, aku memberanikan
diri mengobrol dengannya.
“Aku
Adnee”, salamku sambil mengulurkan tangan.
“Asra.
Aku tahu kamu. Kita teman sekelas pembekalan kasasi. Selama dua tahun
kurasa kamu sekretaris kelas, jadi aku tahu kamu. ”, jawabnya
sambil tetap mengulurkan tangan menyambut tanganku.
Bengong
karena kaget sekaligus heran kenapa aku tidak pernah melihatnya di
kelas. Dua tahun itu bukan waktu yang terlalu singkat untuk mengenal
35 teman kasasi sekelasku. Absen kelas di tanganku dan aku tidak
pernah mengenalnya! Betapa ironinya.
“Ooh,
oke”, jawabku sambil ternganga. Ajaib. Ckckckck.
To
be contined......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar